02 Juni 2015

Malam Ribuan Berkah.

1.

Malam ini hujan betah sekali mengunjungi bumi. Aku asyik memandanginya bersama teman temanku di depan warung nasi sambil asyik menikmati teh hangat tawar yang diberikan pemiliknya. Kami memanggilnya Emak. Di warung Emak masih ada beberapa pemuda yang masih asik mengobrol sambil menghabiskan kopi dan rokoknya. Kami menunggu panggilan tugas kami, tapi tidak sebelum mereka keluar. Sesekali kami melirik dan mereka masih asyik berbincang, sedangkan Emak selalu tersenyum saat mendapati kami yang jelas terbaca sedang menunggu pelanggannya pergi.

Emak selalu tersenyum pada kami yang seringkali jadi pelanggan hampir terakhirnya. Hujan selalu berkunjung jam lima sore dan kami selalu berkunjung jam sembilan malam. Akhir akhir ini kami sering kesini, untuk menikmati hangatnya teh tawar gratis. Teh tawar yang terasa manis dengan senyum Emak. Emak memberikan teh hangat tawar sambil tersenyum diikuti teriakan terimakasih kami sambil kegirangan. Bila pelanggan pulang, giliran kamilah yang memberikan bantuan gratis pada Emak. Menumpuk bangku atau sesekali membantu mencuci piring di belakang, Emak hanya tersenyum melihat kami yang gembira bisa membantunya.

Sore akhir akhir ini adalah quality time bagi hujan, Kota Bogor, kami, dan Emak. Sudah sebulan terakhir hujan datang setiap sore menjelang maghrib. Tepat dengan waktu tiba kereta kereta penuh pegawai pulang kantor. Mereka akan menghambur, begitupun kami. Ojek payung stasiun Bogor. Kami jatuh cinta pada hujan, pada semua hal yang datang dengannya. Kami jatuh cinta pada lembar dua ribu rupiah dan kesempatan untuk menari di atas tanah basah antara stasiun dan pintu angkot. Kami jatuh cinta pada teh hangat tawar Emak yang setia menunggu jam sembilan malam.

Hujan mulai menipis. Kami sudah selesai membereskan warung Emak yang sekarang nampak lebih bersih dari sebelumnya. Kami kembali menghambur keluar warung melihat Emak beranjak dari duduknya dan menenteng kunci warungnya. "Emak balik dulu yah, cepet pulang, anak anak gak baik diluar malem malem apalagi pada kuyup begitu, ntar sakit besok gak bisa sekolah" pesan Emak memang itu itu saja, kami sudah hafal betul. Emak menghilang dibalik tirai hitam gelap malam.

Kami tersenyum atas hujan dan segala yang datang dengannya. Hujan, hiruk pikuk Stasiun Bogor, suara panggilan pelanggan, pemandangan pegawai muda nan cantik, tanah basah, lembar lembar dua ribu rupiah, remang cahaya malam, hangat teh tawar, dan Emak.

Malam ini, ribuan berkah hadir. Berbentuk tetes dingin hujan dan hangat teh tawar.

2.

Malam ini hujan betah sekali mengunjungi bumi. Aku asyik memandanginya sambil menunggui warung nasi sambil sesekali melihat jam di dinding anyamanku. Jam 20.45, sebentar lagi anak anakku datang. Anak yang bukan dari suamiku dan juga bukan dari rahimku. Mereka hadiah dari Tuhan atas doaku yang kesepian menunggui warungku yang ramai. Pelangganku sekarang hanya beberapa anak muda yang sepertinya asik dengan kehidupannya tanpa peduli aku yang kelelahan ingin segera menutup warung. Tidak, warung takkan kututup hingga anak anaku datang. Aku takut mereka kedinginan setelah berjam jam di peluk dingin Stasiun Bogor.

Itu mereka, anak anakku datang. Jamuan Tuhan bagi aku yang lapar kehangatan akan kujamu dengan kehangatan teh tawarku.

"Ayo ini diminum biar gak kedinginan lagi abis ujan ujanan". "Terimakasih Emaaaakk".

Tidak Nak, aku yang berterimakasih pada kalian sudah mau kesini. Kalian adalah malaikat kecilku. Baju kalian basah tapi jiwa kalian tetap hangat. Biarkan aku merasakannya.

Aku kembali ke dalam warung agar pelangganku tidak merasa ditinggalkan, bagaimanapun mereka adalah tamuku. Sekali dua kali aku menangkap ekor mata anak anakku sedang memperhatikan pelangganku, mereka nampak bosan menunggu di luar.

Sabar Nak, warung ini adalah rumah kalian, biarkan tamu kita sedikit mencicipi kehangatan rumah kita.

Akhir akhir ini aku sering kali merasa anak anak itu tak pernah basah. Panas semangat mereka berhasil membakar jahat udara dingin di leher belakang. Hangat. Tuhan, Kau begitu dekat.

Anak anak itu selalu saja memujiku dengan keceriaan yang mereka ciptakan di depan warung. Aku yakin mereka pandai berhitung. Pembicaraan mereka tak jauh dari berapa. Mereka membicarakan seberapa deras hujan, seberapa padat stasiun, seberapa basah tanah, atau seberapa cantik pelanggan mereka. Dan aku tersenyum hanya dengan melihat mereka. Anak anakku, Emak ingin sekali kalian peluk. Dadaku kosong setelah suamiku kembali ke Tuannya, Tuhanku.

Pelangganku pulang setelah salah seorang diantaranya memberikanku selembar uang seratus ribu.

"Ambil aja kembaliannya, Bu." Lalu lekas hilang dibalik remang cahaya.

Sore akhir akhir ini adalah quality time bagi hujan, Kota Bogor, aku, dan anak anak. Sudah sebulan terakhir hujan datang setiap sore menjelang maghrib. Warungku akan sepi sekali, pelanggan malamku hanya satu dua orang, jarang sekali yang bergerombol. Hujan mengurung langgananku dirumah mereka. Tuhan tahu aku kesepian. Dia mengirimiki anak anak ojek payung Stasiun Bogor. Aku jatuh cinta pada hujan , pada semua hal yang datang dengannya. Aku jatuh cinta pada aroma makanan sajianku yang terkurung disini sini saja dan kesempatan melihat anak anakku datang dengan wajah menggemaskan mereka. Aku jatuh cinta pada jam kereta pulang kerja atau biasa kusebut kereta rejeki bagi anak anakku yang setia menunggu.

Hujan mulai menipis. Mereka sudah selesai membereskan warungku yang sekarang nampak lebih bersih dari sebelumnya. Mereka menghambur keluar, warung akan segera kututup.  "Emak balik dulu yah, cepet pulang, anak anak gak baik diluar malem malem apalagi pada kuyup begitu, ntar sakit besok gak bisa sekolah" pesanku memang itu itu saja, mereka nampak sudah hafal betul. Aku berjalan hingga gelap menelanku bulat, merawat rindu hingga jam sembilan besok malam.

Aku tersenyum atas hujan dan segala yang datang dengannya. Hujan, hiruk pikuk jalanan depan warung, suara tetes hujan yang mengguyur, pemandangan pegawai muda nan cantik berpayung yang nampak bukan miliknya, aroma makanan sajianku, selembar seratus ribu yang tak diminta kembaliannya, remang cahaya malam, hangat teh tawar, dan anak anakku.

Malam ini, ribuan berkah hadir. Berbentuk dingin kuyup hujan dan hangat api semangat.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;