Inilah jalan yang terlanjur jauh ku
tempuh. Jalan perjuangan menurutku, jalan pelarian menurut mereka. Jalan dimana
aku hanya bisa berteriak, meneriakkan suara mereka yang bahkan tak dianggap
keberadaannya. Jalan yang untuk sebagian orang menarik, dan hina di sebagian
yang lain. Jalan pahlawan menurutku, jalan nista menurut mereka. Aku yang tak
bisa berkontribusi menyeluruh hanya ingin berpendapat di depan mereka yang bisa
melakukannya. Walaupun terkadang dicemooh karena tak didengar, setidaknya aku
sudah berbisik.
Terkadang aksi bukan tentang sebuah
kekecewaan, terkadang juga ajakan. Kata seorang senior ini adalah sebuah
panggilan perang, perang melawan tirani kepemimpinan yang terlalu memaksakan
kehendaknya. Perang melawan ketidakacuhan masyarakat terhadap keadaan
sekitarnya. Perang melawan zona nyaman yang seringkali memelukku untuk tinggal
di dalamnya.
Kawan kawan ku tidak semuanya
menyukai aksi, bahkan kawan kontrakanku pun seringkali kabur dari agenda
tersebut. Kawan kawanku tidak semuanya menyetujui aksi, mereka lebih suka
belajar, begitupun aku, tapi disinilah pelajaranku. Terkadang aku mendapatkan
komentar ketika aku membolos untuk aksi. ‘benahi dulu dirimu, baru bisa
membenahi orang lain’. Aku disuruh menyempurnakan diriku, barulah
menyempurnakan bangsaku. Kalau begitu, mungkin sampai mati aku hanya bisa
melihat bangsaku diperbudak oleh bangsa tamu yang mengangkangi rajaku.
Ini bukan tentang sekedar protes,
karena protesku adalah perwakilan protes masyarakatku. Aku tidak ingin sibuk
belajar sementara masyarakatku terus dibodohi. Kalaupun aku membandingkan, para
pembelajar dikampusku tak lebih baik dalam berkontribusi pada masyarakat
dibandingkan kawan kawan seperjuanganku. Mereka sibuk berkata ‘kita harus
pintar dan menguasai banyak hal untuk merubah’ tapi pada hakikatnya, mereka
sibuk belajar untuk menjadi pekerja. Untuk mereka sendiri, bukan untuk
bangsanya. Ada satu kontribusi mereka untuk bangsa, meningkatkan GDP yang
menurutku tak bisa dijadikan patokan majunya masyarakatku. Bahkan ada kawanku
yang ketika ku tanya bagaimana orientasi mahasiswa di kampus, dia berkata
sebenarnya kita semua masih punya pikiran ‘how to be a good budak’.
Aku takut ketika aku menjadi
pintar, akulah yang membodohi masyarakatku. Aku takut ketika aku menjadi
penguasa, akulah yang dikangkangi bangsa asing yang jauh lebih besar. Lebih
baik aku berteriak tak didengar, daripada aku terdiam dan dibodohi. Lebih baik
aku diringkus saat aksi, daripada makin banyak masyarakatku yang diringkus
karena mencuri akibat terlalu lapar. Semua ini untuk Indonesiaku yang lebih
baik, karena aku mencintaimu, bangsaku, Indonesiaku.
Sekarang aku ingin bertanya pada kalian,
kalau teriakanku tak didengar, kau bisa apa dengan berdiam?


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact