16 April 2014

kalau teriakanku tak didengar, kau bisa apa dengan berdiam?

Inilah jalan yang terlanjur jauh ku tempuh. Jalan perjuangan menurutku, jalan pelarian menurut mereka. Jalan dimana aku hanya bisa berteriak, meneriakkan suara mereka yang bahkan tak dianggap keberadaannya. Jalan yang untuk sebagian orang menarik, dan hina di sebagian yang lain. Jalan pahlawan menurutku, jalan nista menurut mereka. Aku yang tak bisa berkontribusi menyeluruh hanya ingin berpendapat di depan mereka yang bisa melakukannya. Walaupun terkadang dicemooh karena tak didengar, setidaknya aku sudah berbisik.
Terkadang aksi bukan tentang sebuah kekecewaan, terkadang juga ajakan. Kata seorang senior ini adalah sebuah panggilan perang, perang melawan tirani kepemimpinan yang terlalu memaksakan kehendaknya. Perang melawan ketidakacuhan masyarakat terhadap keadaan sekitarnya. Perang melawan zona nyaman yang seringkali memelukku untuk tinggal di dalamnya.
Kawan kawan ku tidak semuanya menyukai aksi, bahkan kawan kontrakanku pun seringkali kabur dari agenda tersebut. Kawan kawanku tidak semuanya menyetujui aksi, mereka lebih suka belajar, begitupun aku, tapi disinilah pelajaranku. Terkadang aku mendapatkan komentar ketika aku membolos untuk aksi. ‘benahi dulu dirimu, baru bisa membenahi orang lain’. Aku disuruh menyempurnakan diriku, barulah menyempurnakan bangsaku. Kalau begitu, mungkin sampai mati aku hanya bisa melihat bangsaku diperbudak oleh bangsa tamu yang mengangkangi rajaku.
Ini bukan tentang sekedar protes, karena protesku adalah perwakilan protes masyarakatku. Aku tidak ingin sibuk belajar sementara masyarakatku terus dibodohi. Kalaupun aku membandingkan, para pembelajar dikampusku tak lebih baik dalam berkontribusi pada masyarakat dibandingkan kawan kawan seperjuanganku. Mereka sibuk berkata ‘kita harus pintar dan menguasai banyak hal untuk merubah’ tapi pada hakikatnya, mereka sibuk belajar untuk menjadi pekerja. Untuk mereka sendiri, bukan untuk bangsanya. Ada satu kontribusi mereka untuk bangsa, meningkatkan GDP yang menurutku tak bisa dijadikan patokan majunya masyarakatku. Bahkan ada kawanku yang ketika ku tanya bagaimana orientasi mahasiswa di kampus, dia berkata sebenarnya kita semua masih punya pikiran ‘how to be a good budak’.
Aku takut ketika aku menjadi pintar, akulah yang membodohi masyarakatku. Aku takut ketika aku menjadi penguasa, akulah yang dikangkangi bangsa asing yang jauh lebih besar. Lebih baik aku berteriak tak didengar, daripada aku terdiam dan dibodohi. Lebih baik aku diringkus saat aksi, daripada makin banyak masyarakatku yang diringkus karena mencuri akibat terlalu lapar. Semua ini untuk Indonesiaku yang lebih baik, karena aku mencintaimu, bangsaku, Indonesiaku.
Sekarang aku ingin bertanya pada kalian, kalau teriakanku tak didengar, kau bisa apa dengan berdiam?

0 komentar:

Posting Komentar

 
;