04 Juli 2015

Peluk Erat untuk Pa' Aji.

Detak berdegup lebih cepat malam ini. Puisi tak mampu melambatkannya.

Malam itu, di kamar sempitmu yang tidak akan pernah menjadi mewah, aku menemukan kemewahan dirimu dan asal usulku. Kemewahan para perantau. Malam ini, aku menangis, bahwa kemewahan itu pergi ke pulau seberang.

Malam itu, kau tak memiliki uang banyak. Begitupun malam malam selanjutnya sampai hari ini. Tapi apalah arti uang bila kita memiliki seseorang. Sangat kita cintai. Sangat kita hormati. Kau, dan seluruhmu. Kembali itu yang kau miliki. Malam ini, aku menangis, bahwa semua masa sulit yang kau -denganku- lalui itu pergi ke pulau seberang.

Malam itu, kau menjamuku dengan Coca Cola dan martabak manis hasil uang pinjaman. Andai kau tahu, itu pertama kalinya aku mengalami penyambutan yang amat mewah dalam hidupku. Penyambutan yang selalu berkata atas namamu "Selamat datang, ini adalah rumah ketiga-setelah orangtua dan kekasih-mu". Malam ini, aku menangis, bahwa rumah itu pergi ke pulau seberang.

Malam itu, tak jauh sebelum lebaran kurban. Saat kita pergi mengambil daging 5 kg di tempat yang jauh sekali. Kau malas sekali mengambilnya bukan? Aku pun begitu. Tapi kita tetap mengambilnya. Membakarnya sebagian. Menjadikannya rendang sebagian. Rasa dagingnya masih terbayang saat kita -terpaksa- makan mie di dua minggu akhir bulan. Malam ini, aku menangis, bahwa rasa itu pergi ke pulau seberang.

Malam itu, asap rokokmu mengepul sekali di dalam rumah. Keceriaan yang bebas, tanpa seorangpun bisa menangkapnya. Juga kegelisahan-kebahagiaan-kepenatan yang bebas, tanpa seorangpun bisa menangkapnya. Malam ini, aku menangis, bahwa asap itu terbang pergi ke pulau seberang.

Malam itu, aku memiliki wanita. Wanita yang aku janjikan kehadiranmu pada hari pernikahan kami. Wanita yang entah bagaimana kabarnya saat ini. Wanita berbeda dengan wanitaku malam ini, yang tak ingin dan tak pernah ingin melepasmu pergi. Dua wanitaku, tak ada yang tak menghormatimu. Malam ini, aku menangis, bahwa wanitaku kehilangan dua pelukannya yang pergi ke pulau seberang.

Malam itu, kau mengundangku menginap. Rangkulan rumah itu terlalu berat untuk ditinggalkan. Tapi aku memilih pulang, tak ingin kau tak lagi mengundangku menginap. Malam ini, aku menangis, bahwa undangan menginap itu pergi ke pulau seberang.

Selamat sampai tujuan, Pa' Aji Khaidir. Lekas merantau kembali. Perindumu mulai menangis di balik selimutnya. Peluk jauh dan salam sayang dariku dan kekasihku. September adalah bulan kering. Jangan biarkan air mata membasahi wajah karena kau dan Asriadi tak datang tepat waktu.

Jakarta, 3 Juli 2015.
Muhammad Uways Mustajab.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;